Kamis, 11 Maret 2010

Kekalahan Milan Sudah Diprediksi

0

MANCHESTER - Sehari sebelum pertandingan Manchester United versus AC Milan, Wakil Presiden Milan Adriano Galliani sudah merasa timnya bakal kalah. Milan kehilangan pemain-pemain utama.

Dalam duel Liga Champions di kandang MU, Rabu (10/3/2010), Milan tak dapat menurunkan sejumlah pemain utamanya. Striker Alexandre Pato cedera sejak pekan lalu. Alessandro Nesta juga mengalami hal serupa. Luca Antonini juga harus absen menjelang laga. 

"Saya tahu segalanya menjadi buruk kemarin (Selasa, 9/3/2010)sore. Kami memasukkan Alexandre Pato, Alessandro Nesta, dan Luca Antonini ke dalam skuad, tapi ketiganya ditarik karena cedera pada Selasa," ungkap Galliani.

"Tanpa pemain-pemain penting ini dan melawan tim sekualitas Manchester United, selalu akan menjadi sangat sulit," lanjutnya.

Galliani berharap kondisi ini tidak berlarut-larut sehingga Milan masih dapat bersaing di liga domestik. Ia juga masih percaya kepada kepelatihan Leonardo. 

Hancurkan Milan, "Setan Merah" Ubah Sejarah

0

MANCHESTER — Manchester United  mengandaskan AC Milan 4-0 di leg kedua 16 besar Liga Champions, Rabu (10/3/2010), dan melaju ke perempat final dengan keunggulan agregat 7-2. Ini adalah pertama kalinya dalam lima pertemuan kedua kubu di Liga Champions, MU mampu menyingkirkan Milan.

Keberhasilan MU ditentukan oleh permainan mereka selama 15 menit pertama. Memanfaatkan kesalahan umpan yang kerap dilakukan Milan plus buruknya koordinasi pertahanan, MU berhasil menguasai lini tengah dan begitu ada kesempatan, cepat menusuk jantung pertahanan Milan.

Pada menit keempat, misalnya, Roney melepaskan tendangan mendatar yang mengarah ke sudut kiri gawang Christian Abbiati. Sayangnya, bola terlalu melebar dan kandas dimakan garis lapangan.

Pada menit ketujuh, MU kembali mendapatkan peluang gol melalui Gary Neville. Mendapat ruang di luar kotak penalti, Neville melepaskan tendangan ke tengah atas gawang Milan, yang sayangnya melambung terlalu tinggi dari mistar gawang.

Empat menit setelah itu, giliran Nani yang membuat Pelatih Milan, Leonardo, ketar-ketir dengan sepakannya yang mengarah ke sudut kanan bawah gawang. Bola sebetulnya melenceng dari sasaran. Namun, karena tak mau ambil risiko, Abbiati bereaksi menepis bola untuk memastikannya keluar lapangan.

Kejutan-kejutan kecil itu akhirnya berubah menjadi bencana besar bagi Milan, begitu Rooney berhasil membobol gawang mereka pada menit ke-13. Gol bermula dari pergerakan Gary Neville di sektor kiri pertahanan Milan. Menjelang garis lapangan, ia melepaskan umpan silang. Rooney, yang berada di tengah kawalan sejumlah pemain Milan, berhasil menanduk bola masuk ke tengah gawang Abbiati.

Di tengah tekanan itu, Milan masih sempat menciptakan dua peluang gol. Pada menit kedelapan, misalnya, dari tengah kotak penalti, Ronaldinho berhasil menanduk umpan Andrea Pirlo yang sempat mengenai Nani, ke sudut kiri bawah gawang Edwin van der Sar. Sayang, bola sedikit melenceng dari sasaran.

Semenit kemudian, giliran Klaas-Jan Huntelaar berkesempatan mencetak gol. Berhasil mendapat posisi di tengah kotak penalti, ia mencoba menjangkau umpan Thiago Silva. Sayang, ia gagal dan bola pun terbuang keluar lapangan secara percuma.

Permainan Milan baru membaik ketika laga melewati menit ke-15. Selain berhasil mengandaskan serangan lawan, Milan juga mampu melakukan tekanan. Sayang, usaha mereka gagal membuahkan gol sehingga skor 1-0 untuk MU bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, MU langsung menggebrak dengan serangan cepat yang berujung gol dari kaki Rooney pada menit ke-46. Gol bermula dari pergerakan Nani di sektor kanan pertahanan MU. Ia kemudian melepaskan umpan terobosan yang berhasil menjangkau dan menyepak bola ke tengah gawang Milan.

Gol itu juga tak lepas dari buruknya gerak spekulatif Abbiati yang meninggalkan sarang untuk menghalau bola. Sayang, gerakannya kalah cepat dari Rooney. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa, selain melongo melihat bola bergulir masuk ke tengah bawah gawangnya.

Keadaan tertinggal tak memberikan Milan pilihan selain menyerang. Mereka kemudian memang mampu mendesak MU. Namun, Milan gagal belajar dari gol kedua MU dan kembali kebobolan akibat serangan balik, pada menit ke-58. Kali ini, giliran Park Ji-Sung yang mempermalukan Abbiati.

Gol bermula dari pergerakan Paul Scholes di lini tengah. Dengan cerdas, ia melepaskan umpan kepada Park yang berada dalam kepungan sejumlah pemain lawan di tengah kotak penalti. Begitu menguasainya, Park menggoceknya, sebelum melepaskan tendangan dari sudut sempit ke pojok kanan bawah gawang Milan.

Gol itu membuat Pelatih Milan, Leonardo, semakin menyampingkan urusan pertahanan. Setelah menggantikan Daniele Bonera dengan Clarence Seedorf pada menit ke-46, ia memasukkan David Beckham (64) dan Filippo Inzaghi menggantikan Ignazio Abate dan Marco Boriello (69).

Perubahan ini memang kemudian membuat Milan lebih agresif dan sedikit mampu memperbaiki perolehan peluang. Pada menit ke-74, misalnya, memanfaatkan bola liar, Beckham melepaskan tendangan voli yang menyasar tengah atas gawang MU. Sayang, tendangan deras itu masih mampu ditepis Van der Sar.

Sayangnya, setelah itu, Milan masih kesulitan mempertahankan penguasaan bola dan konsistensi serangan. Dalam sejumlah kesempatan, mereka masih sering kehilangan bola. Bahkan, pada menit ke-87, mereka kembali kecolongan gol keempat MU yang dicetak Darren Fletcher. Memanfaatkan umpan Rafael, Fletcher menanduk bola dari tengah kotak penalti masuk ke tengah gawang Abbiati.

Setelah itu, Milan masih mencoba menunjukkan semangat bermain. Sayang, tanpa determinasi, mereka sama sekali gagal memberikan ancaman serius ke gawang Van der Sar dan akhirnya terpaksa menyerah 0-4. (*)

Susunan pemain:
MU: 
Van der Sar; Evra, Vidic, Ferdinand, Neville (Rafael 66); Nani, Scholes (Gibson  73), Fletcher, Valencia; Park; Rooney (Berbatov  66)
Milan: Abbiati; Janlukulovski, Thiago Silva, Bonera (Seedorf  46), Abate (Beckham  64); Ambrosini, Pirlo, Flamini; Boriello (Inzaghi 69), Ronaldinho, Huntelaar

Leonardo: MU Memang Hebat

0
MANCHESTER - Pelatih AC Milan, Leonardo, mengakui kehebatan Manchester United (MU), yang membantai timnya 4-0 di laga kedua 16 besar Liga Champions. Menurut Leo, MU terlalu kuat untuk Milan dan penampilan mereka tadi malam benar-benar hebat.

"Saya kira kita bisa menganalisis pertandingan dari berbagai cara, tapi satu hal yang tak bisa kita sangkal adalah penampilan hebat MU. Mereka bermain dengan sangat baik," puji Leo.

"Di leg pertama (San Siro), pertandingan berjalan seimbang. Kami memang kalah tapi kami mampu mendominasi laga. Hari ini semuanya berbeda. Kami memang memiliki beberapa masalah, tapi MU sangat kuat."
"Mereka bisa memanfaatkan kesalahan kami dengan berbagai cara. Mereka sangat jeli dan hal itu dibutuhkan untuk bermain di kompetisi seperti Liga Champions," jelas Leo.

Dalam pertandingan tadi malam MU memang jeli untuk memanfaatkan lubang pertahanan Milan yang ditinggalkan Alessandro Nesta. Daniele Bonera yang bertugas menggantikan Nesta tidak mampu berbuat banyak. Total Milan kalah agregat 7-2.

Milan Kalah, Galliani Minta Rombak Stadion

0
MILAN - Kekalahan dua klub Italia di perdelapan final Liga Champions mengetuk hati Wakil Presiden AC Milan, Adriano Galliani. Ia berharap agar stadion di Italia dirombak. 

Dua tim Serie A yang sudah tersingkir itu adalah Fiorentina dan Milan sendiri. "La Viola" kalah dari Bayern Muenchen, sementara "I Rossoneri" menyerah di tangan raksasa Inggris, Manchester United.

Berbeda dari Fiorentina, yang menang di laga kandang, Milan selalu kalah dalam dua laga kontra MU. Namun, menurut Galliani, ada persamaan di balik kegagalan kedua tim tersebut.

"Masalahnya adalah stadion," komentarnya. "Negara lain punya turnamen dan memperbarui arena mereka karena itu dapat mengubah dukungan yang Anda peroleh dan pendapatan."

Stadion-stadion di Italia memang berbeda dibanding milik Bayern maupun MU. Stadion Allianz Arena milik Bayern dibangun atas biaya sponsor. Sebelumnya, "FC Hollywood" bermarkas di Stadion Olimpiade di bagian utara Muenchen.

Adapun MU menggunakan satu stadion Old Trafford sejak 1910. Stadion ini dimiliki dan dikelola oleh klub. Meski sempat berbagi ruang dengan rival sekota, Manchester City, MU adalah pemilik satu-satunya stadion megah tersebut.
"Sayangnya, di Italia, dewan kota masih menguasai stadion-stadion dan tegas mempertahankan itu. Kami perlu memperbarui stadion. Saya tak tahu bakal makan waktu berapa lama," keluh Galliani.
"Kami masih tetap sama, sementara tim lain sudah berubah. Coba lihat di Bologna, Bergamo, dan beberapa lainnya yang masih memakai stadion sejak 1920 dengan tempat duduk terbuka dan tak seorang pun mengizinkan untuk mengubahnya. Jika Milan punya 100 juta euro, kami akan membangun skuad seperti ini juga," tambahnya.

Selain soal stadion, Galliani juga menyerukan perubahan struktur sepak bola di Italia. Ia juga berharap agar setiap klub mendapat bagian lebih dari hak siar televisi.
Loading...